Hari Prasetio

Lahir di Cilacap 25 Maret 1967. Lulusan SDN 1 Karangtalun Cilacap (1980), SMPN 4 Cilacap (1983), SMAN 1 Cilacap (1986). Alumni Universitas Sebelas Maret Sur...

Selengkapnya
Kenapa Semua Harus Dibayar ?
Sumber : hetanews.com

Kenapa Semua Harus Dibayar ?

Mari kita renungkan bersama, dahulu bekerja untuk orang lain di pedesaan tidak harus dibayar. Mereka berpandangan memenuhi kebutuhan orang lain dianggap juga merupakan kepentingannya sendiri. Itulah pandangan orang-orang dahulu di pedesaan. Namun gambaran seperti itu, sekarang ini sudah hampir tidak ada lagi. Gotong royong sudah digantikan dengan tukar-menukar.

Rasanya di jaman modern seperti sekarang ini hampir tidak ada lagi sesuatu yang bersifat gratis. Orang tidak mau bekerja tanpa dibayar dengan uang. Bekerja dalam bentuk apapun, baik dengan tenaga, pikiran, dan ucapan, semua ditukar dengan uang, bahkan berdoapun juga harus dibayar. Apa saja harus ditukar dengan uang.

Apalagi pemberian dukungan agar seseorang terpilih menduduki posisi politik, pimpinan organisasi, dan lain-lain yang dianggap secara pribadi menguntungkan harus membayar dengan uang. Itulah sebabnya muncul istilah politik uang, pembelian suara, kendaraan politik, ongkos dukungan, dan sejenisnya. Jika semua aktivitas, mulai dari yang bersifat lahir hingga yang bersifat batin, tidak ada yang gratis, maka semua harus ditukar dengan uang.

Lalu, timbul pertanyaan di mana gambaran konkrit tentang solidaritas sosial itu. Rupanya gotong royong tinggal kata-kata. Antar tetangga saja, orang tidak saling mengenal apalagi bergotong royong. Semua persoalan sudah diselesaikan melalui transaksi dengan uang. Seakan-akan tanpa uang, kehidupan menjadi tidak berjalan.

Hidup dijalani secara individual padahal jumlah orang menjadi semakin banyak, penduduk semakin padat. Dengan budaya transaksional itu, maka kehidupan terasa semakin sepi, orang merasa sepi di tengah keramaian, tidak ada orang lain yang membantu dan peduli. Sungguh sangat ironis mereka bukan berteman dengan manusia, melainkan berteman dengan uang.

Suasana sebagaimana digambarkan di atas, ternyata membuat banyak orang tua, masyarakat, kalangan pendidik hingga Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, semua merasa gelisah. Pendidikan karakter yang pada akhir-akhir ini diberikan penguatan lebih dan bahkan lahirnya Kurikulum 2013, adalah di antaranya untuk merespon keadaan masyarakat yang sudah semakin terbuka hingga kehilangan norma-norma, nilai-nilai, kesantunan, gotong royong, tradisi, dan adat istiadat lainnya. Selalu diingatkan bahwa, manusia boleh kehilangan apa saja asalkan bukan karakternya.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

inspiratif sekali pak tulisannya...

20 Dec
Balas

Mtrnuwun Pak.

25 Dec
Balas

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali